Rika Sensor adalah produsen sensor cuaca dan penyedia solusi pemantauan lingkungan dengan pengalaman industri lebih dari 10 tahun.
Apa saja indikator untuk pemantauan kualitas air secara daring dalam akuakultur cerdas?
Dari perspektif perkembangan teknologi, abad ke-21 adalah era 'Internet +'.
Dari perspektif kebutuhan industri, budidaya perikanan tradisional bergantung pada pengamatan manual, pencatatan informasi tidak dilakukan secara real-time, regulasi tidak tepat waktu, dan umpan balik lambat. Seiring dengan terus berkembangnya skala budidaya perikanan, persyaratan pengolahan informasi dalam proses budidaya perikanan semakin tinggi, dan akurasi serta keandalan pencatatan data manual sangat berkurang. Selain itu, budidaya perikanan tradisional didominasi oleh rumah tangga ritel, metode manajemen produksi yang ekstensif, kapasitas produksi individu yang tidak memadai, dan kualitas produk tidak dapat dijamin. Dengan munculnya dan berkembangnya akuakultur cerdas, entitas akuakultur tradisional menyadari pentingnya transformasi dan peningkatan, dan model akuakultur, metode manajemen, dan teknologi terkait terus menggabungkan kekuatan inovatif, sehingga budidaya akuakultur modern skala besar dan cerdas sedang berlangsung. Mendengar 'akuakultur cerdas', khususnya sistem pemantauan kualitas air daring, membuat kondisi budidaya dapat dikontrol, lingkungan budidaya tidak lagi dibatasi oleh cuaca, dan serangkaian faktor penting yang memengaruhi seperti suhu air, oksigen terlarut, nilai pH, kandungan nitrogen amonia dari badan air budidaya menjadi dapat dikontrol dan disesuaikan; pada saat yang sama, penerapan sistem pemantauan kualitas air akuakultur daring sangat mengurangi biaya akuakultur tradisional, termasuk biaya tenaga kerja dan umpan, dan benar-benar mewujudkan otomatisasi seluruh proses akuakultur agar efisien, cerdas, aman, dan berproduksi tinggi. Jadi, apa saja indikator pemantauan kualitas air secara daring untuk akuakultur cerdas? Mengapa perlu dipantau? 1. Suhu air Dalam kondisi kehidupan produk perairan, suhu air memegang posisi penting. Ambil contoh ikan. Ikan adalah hewan termofilik, dan suhu air berpengaruh pada perkembangan gonad dan pemijahan ikan. Pantau suhu air di area budidaya dan lakukan intervensi yang efektif dan tepat waktu untuk memastikan ikan berada pada suhu air yang paling sesuai sehingga dapat tumbuh sesuai spesifikasi komersial secepat mungkin selama tahap pembiakan. Kedua, ketinggian permukaan air. Ketidakstabilan permukaan air merupakan hal yang sangat buruk untuk budidaya perikanan. Permukaan air yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memengaruhi produk perairan yang dibudidayakan di area tersebut. Jika permukaan air terlalu tinggi, akan meningkatkan risiko meluapnya kolam. Jika tidak ditangani tepat waktu, dapat terjadi risiko kerusakan pada fasilitas pagar, tepian kolam, atau bahkan runtuh. Jika permukaan air terlalu rendah, jika terjadi cuaca dingin, produk perairan di area tersebut akan mengalami bencana akibat kedinginan. 3. Konsentrasi ion nitrogen amonia Nitrogen amonia mengacu pada unsur nitrogen yang ada dalam bentuk ikatan NH trivalen positif dalam air, yaitu, jumlah nitrogen dalam bentuk amonia molekuler dan amonium ionik. Amonia molekuler beracun bagi ikan, dan amonium ionik tidak beracun bagi ikan, tetapi amonia molekuler dan amonium ionik dapat berubah satu sama lain dalam air, sehingga perlu untuk memantau konsentrasi ion nitrogen amonia dalam air budidaya perikanan. Empat. pH (nilai pH) Kisaran pH optimal untuk air budidaya perikanan umumnya antara 7,5-8,5. Jika pH terlalu rendah, hewan budidaya akan menderita hipoksia fisiologis; jika pH terlalu tinggi, air dapat mengikis jaringan insang ikan dan udang, menyebabkan mereka kehilangan kemampuan bernapas dan menyebabkan banyak kematian. 5. Konsentrasi oksigen terlarut Ketika oksigen terlarut tinggi, produk yang dihasilkan adalah zat yang tidak beracun dan tidak berbahaya, dan konsentrasi NH3 dan NO2 rendah. Dalam kondisi hipoksia, produknya adalah nitrogen amonia, nitrit, hidrogen sulfida, amina organik, asam organik, dan lain-lain, yang memiliki efek toksik yang besar pada spesies budidaya. Oleh karena itu, menjaga oksigen terlarut yang cukup dalam industri akuakultur dapat menghambat reaksi kimia zat-zat beracun. VI. Kekeruhan air Kekeruhan air adalah tingkat kekeruhan air, dan dampaknya terhadap organisme sangat jelas. Selain indikator pemantauan di atas, indikator evaluasi kualitas air budidaya perikanan meliputi konduktivitas, hidrogen sulfida, dan nitrit.